RSS

Novel dan Film, Adalah Sesuatu yang Berbeda



“apa kau masih mau ke Bandung lif?? sekolah di kampus kebun binatang itu??”

            Itu adalah sepenggal dialog antara atang dan alif di bawah menara kebanggaan mereka dalam film Negeri 5 Menara. Dan entah mengapa pas adegan itu hampir semua penonton satu bioskop tertawa puas (sebagian besar penonton adalah anak UI.. hehe :p).

Oke, disini saya tidak akan membahas rivalitas antara UI dan ITB. Tapi masalah film yang baru saja saya tonton, yaitu Negeri 5 Menara. Saya yakin, banyak diantara kita pasti sudah tidak sabar untuk segera melihat bentuk filmnya sesaat setelah membaca novelnya. Saya juga merasakan hal yang sama. Tapi entah karena ekspektasi saya yang berlebihan atau karena hal apapun itu, saya merasa film itu kurang “nendang” dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Saya merasa ada nyawa yang hilang dari bentuk novelnya. Oke, mungkin memang novel dan film adalah sebuah media yang berbeda. Dan saya tahu itu. Tapi saya yakin banyak orang diluar sana yang sependapat dengan saya untuk ini.

Hal pertama yang akan saya kritisi adalah masalah alur cerita. Saya merasa di novel lebih menarik karena menggunakan alur flashback. Selain itu banyak adegan menarik dalam novel yang tidak digambarkan di filmnya. Seperti saat alif dan para sohibul menara mendapat tugas jaga malam dan berhasil menangkap maling. Lalu saat para santri harus belajar mati-matian hingga tidur di aula untuk menghadapi ujian akhir. Dan juga saat alif sudah mulai mengigau dengan bahasa inggris dan arab. Itu merupakan adegan yang seru dan menarik. Ada juga saat alif menjadi penentu kemenangan tim sepakbola asramanya dalam kejuaraan di pesantren. Atau saat salah satu orang tua murid kebingungan ada pengajian ditengah lapangan sepakbola, yang ternyata adalah komentator pertandingan yang menggunakan bahasa arab. Tapi yang paling saya harapkan adalah adanya dialog dalam bahasa inggris dan arab seperti yang biasa dilakukannya di pesantren. Menurut saya itu akan sangat menguatkan cerita. 

Lalu hal kedua adalah masalah pergeseran jalan cerita. Seperti sarah yang seharusnya di novel diceritakan sebagai anak dari salah satu ustadz, di film berperan sebagai keponakan Kyai Rais. Lalu saat alif memutuskan untuk mau sekolah di pesantren, di film digambarkan seperti Amaknya lah yang menentukan alif masuk ke pondok madani. Padahal di novelnya alif yang memilih pondok madani sebagai jalan hidupnya, atas saran pamannya yang di timur tengah. Ada juga saat adegan pementasan “Class Six Show”, dinovel di ceritakan itu dilakukan saat mereka tahun keempat. Tapi di film itu dilakukan di tahun kedua mereka mondok. Tetapi secara umum saya bisa memaklumi hal ini karena tentu saja karakter di film harus mengikuti jalan ceritanya. Banyak film-film adaptasi novel yang melakukan hal ini.

Dan yang ketiga adalah masalah pemain. Saya suka dengan karakter para sohibul menara di film ini. Menurut saya mirip dengan di novelnya. Tetapi yang mengganjal saya adalah di pilihnya Ikang Fawzi sebagai pemeran Kyai Rais. Entah mengapa setiap saya melihat Ikang Fawzi, yang terpikir di benak saya adalah dia sedang bernyanyi tentang ejakulasi dini dan masalah seks lainnya dengan wajah yang sangat bahagia. Lalu diakhir dia bilang, “rahasia anda kami jamin.” :)

Dan saya merasa agak sedikit aneh tentang itu. Lalu juga pemeran dewasa dari atang dan dulmajid yang lagi-lagi menurut saya kurang pas. Di film ini atang dewasa diperankan oleh Udjo “Project Pop” dan dulmajid oleh Ence bagus. Tapi mungkin sutradara dan kru lainnya punya penilaian lain terhadap mereka semua.

Sangat-sangat sulit memang untuk merepresentasikan sebuah buku setebal 405 halaman kedalam sebuah media visual yang kurang dari 2 jam. Dan disini saya salut dengan sang sutradara Affandi Abdul Rachman dan penulis skenario Salman Aristo. Disini mereka mampu memainkan emosi para penonton dengan sangat baik. Dimulai adegan persahabatan alif dan randai yang menghibur, dilanjutkan dengan semangat “Man Jadda Wajada”, kisah alif yang jatuh cinta dengan sarah, lalu kesedihan yang mendalam atas kepergian baso ke kampung halamannya, hingga adegan saat pementasan drama Ibnu Batutah. Semua itu membuat para penonton tidak ingin melewatkan satu adegan film pun. 

Dan akhirnya, saya harus mengatakan bahwa novel is novel, and film is film. Novel dan film adalah sesuatu yang sangat berbeda. Kita harus bisa menikmatinya dengan keunggulan masing-masing. Dan saya pun sudah tidak sabar lagi untuk segera melihat film keduanya, yaitu Ranah 3 Warna dan membaca buku ketiganya yang judulnya pun masih rahasia.


                                                                       Depok, 1 Maret 2012, 11.45 malam.


Nb: semua yang ditulis di atas adalah menurut pandangan pribadi saya. Mohon maaf apabila ada yang kurang setuju atau merasa tersinggung. Terima Kasih :)
                                                                                                                

0 komentar:

Posting Komentar