Beberapa hari yang
lalu, saya sempat berbicara melalui telepon dengan mama tercinta di rumah (saya
kuliah di depok sementara keluarga tinggal di semarang). Layaknya anak yang
melepas kangen dengan orang tua, kami ngobrol panjang lebar masalah ini itu.
Hingga akhirnya mama cerita bahwa pengeluaran keluarga bulan ini sedang banyak.
Salah satu di antaranya adalah sekolah adik saya yang meminta uang dengan dalih
sebagai uang penunjang kegiatan belajar mengajar.
Dari situ saya berpikir, seharusnya dengan dana dari
pemerintah yang berupa BOS (Bantuan Operasional Sekolah) kepada pihak sekolah,
sekolah tidak perlu lagi meminta / memungut uang ini itu dari para orang tua
murid. Bukankah pemerintah sudah menganggarkan 20% APBN nya untuk pendidikan.
Memang sih sekarang SD dan SMP sudah digratiskan. Tapi itu pun hanya sekolah
negeri yang jumlahnya pun sangat-sangat terbatas. Jadi saya yakin itu belum mencakup
semua penduduk Indonesia.
Program
ini tentu akan sangat membantu apabila hanya diperuntukan bagi siswa/i yang
membutuhkan bantuan. Tetapi karena ini diberikan kepada semua kalangan, ini
akan memberikan efek negative bagi kalangan tertentu karena tentu saja motivasi
pendidikan mereka akan menurun. Orang tua tidak akan merasakan beban finansial untuk
biaya pendidikan anak mereka lagi karena sekarang sekolah sudah gratis, yang
berujung pada berkurangnya tuntutan pada si anak. Si anak pun akan merasakan
kurangnya tuntutan dari orang tua mereka sehingga mereka kurang termotivasi
untuk belajar.
Hal
ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga negara lain. Bahkan negara
maju sekalipun. Jerman adalah salah satunya. Dahulu, Negara ini terkenal karena
sekolah gratisnya, lalu Indonesia pun merasa harus mengikutinya. Padahal kini,
sekolah di Jerman pun sudah berbayar. Entah apa yang mempengaruhinya. Tapi saat
sekolah masih gratis, tingkat kelulusan di Jerman sangat rendah. Hal ini karena
anak-anak Jerman jadi malas-malasan bersekolah, selain karena memang kurikulum
di sana sangat berat.
Hal
yang sama juga terjadi di negara adidaya Amerika Serikat. Angka kelulusan di
sana lebih rendah di bandingkan negara lain. Selain itu, banyak anak Amerika
yang tidak mau melanjutkan ke kuliah. Kalaupun ada, mereka lulus dengan nilai
seadanya. Hingga akhirnya, kuliah disana pun banyak di isi oleh orang-orang
imigran, termasuk Indonesia. Ternyata, ada sebuah study yang menemukan bahwa,
anak-anak Amerika merasa tanpa kuliah pun mereka bisa tetap hidup. Mereka
merasa bisa tetap hidup dengan tunjangan social yang diberikan pemerintah.
Mungkin mirip dengan BLT di Indonesia, tetapi di Amerika lebih jelas karena
mereka punya social security number.
Jadi
pada kenyataannya, sekolah gratis tidak menyelesaikan masalah. Masalah utama
pendidikan di Indonesia adalah bukan masalah uang, melainkan semangat. Hal ini
yang dapat kita petik dari novel atau film Laskar Pelangi dan Negeri 5 Menara.
Ditengah keterbatasan mereka, mereka tetap bersemangat akan cita-cita dan
mimpi-mimpi mereka. Sehingga pada akhirnya semua itu akan indah pada waktunya.
Jadi jangan sampai kita menganggap bahwa sekolah hanyalah sebuah rutinitas
semata, bukan sarana untuk mengembangkan potensi diri dan memperluas
pengetahuan. Karena inilah yang menjadi salah satu penyebab pendidikan di
Indonesia sangat sulit untuk maju dan bisa bersaing dengan negara-negara lain
yang lebih maju dalam bidang pendidikan.
Depok,
7 Maret 2012, 12.20 siang









0 komentar:
Posting Komentar