RSS

Sistem pendidikan ala Steve Job


         Tulisan ini bukan merupakan lanjutan dari tulisan saya sebelumnya. Tapi saya melihat ada kemiripan masalah dalam sistem pendidikan di Indonesia khususnya. Debat dan diskusi tentang sistem pendidikan yang baik dan tepat tidak pernah berhenti. Dari mulai falsafah, konsep dasar, tujuan, kurikulum, sarana, hingga pembiayaan selalu menyajikan isu-isu hangat tanpa ada penyelesaian yang baik. Sistem pendidikan setiap negara sejatinya  berbeda-beda. Hal ini dapat dipengaruhi oleh sejarah, budaya, politik, dan pemerintahan negara tersebut.

Tetapi saat ini, saya melihat pendidikan di Indonesia menjadikan negara lain yang telah maju pendidikannya sebagai tolak ukur keberhasilannya. Sehingga sepertinya kita semua lupa akan fungsi dan tujuan pendidikan itu sendiri yang tercantum di dalam undang-undang, yang berbunyi: 

“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” (UU RI, No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, Pasal 3).

Dunia pendidikan di Indonesia telah lama menggunakan sistem pendidikan yang terbukti tidak membangun karakter anak negeri. Sebagian kecil golongan elit pintar dan dipintarkan oleh sistem, kesempatan dan kekerabatan yang kepintarannya semakin membumbung di awan, menghasilkan ilmu yang tidak membumi, cemerlang secara teori tetapi nihil penerapan di dunia nyata. Sebagian besar lain terus dibodohkan oleh sistem dan malah menjadi beban di usia produktifnya. Sudah sedemikian rumitnya kah permasalahan dunia pendidikan Indonesia saat ini, hingga tidak jelas ujung pangkal penyelesaiannya. Pendidikan telah sedemikian terseret arus kapitalisme, kehilangan arah dan menjadi alat ekonomi.


Solusi pendidikan alternatif

Ada sebuah analogi menarik dari seorang jenius amerika, Steve Jobs, yang membandingkan pendidikan dengan pabrik mobil. Dalam sebuah wawancara Steve Jobs mengatakan; pada dasarnya biaya pendidikan lebih mahal daripada harga sebuah mobil. Tetapi dengan nilai uang tertentu kita bisa memilih mobil dari berbagai tipe, berbagai merek, berbagai fungsi, berbagai fitur serta aksesoris, dan semakin hari kendaraan yang dijual produsen mobil tidak hanya semakin baik dari segi fungsi dan kualitas tapi juga semakin indah. Yang menjadi pertanyaan buat Steve Jobs adalah: Kenapa hal yang sama tidak terjadi di dunia pendidikan? Dengan nilai uang yang sama, kita tidak bisa memilih lembaga pendidikan yang paling kita butuhkan. Sekolah cenderung stagnan dari segala sisi, membosankan. Antara sekolah yang satu dengan yang lain tidak bisa dibandingkan secara obyektif, dan tidak ada jaminan seseorang yang melewati proses pendidikan di suatu lembaga mengalami peningkatan kualitas individu, sebagaimana adanya jaminan kualitas dari pabrik mobil.

Kita tentu mengatakan: penanganan antara benda mati dengan manusia jelas berbeda. Steve Jobs memandangnya dari sudut lain. Menurut Steve Jobs titik permasalahannya adalah “ketiadaan inovasi dalam dunia pendidikan”. Perbedaan penanganan antara benda mati dan manusia pun tidak bisa jadi alasan karena sesungguhnya industri mobil pernah mengalami stagnansi yang sama, sebagaimana juga stagnasi serupa pernah dialami industri komputer. Sebelum mobil-mobil buatan Ford memasuki pasar, jenis mobil yang diproduksi monoton dan membosankan. Hal yang sama terjadi ketika Ford model T menguasai pasar sebelum inovasi baru hadir di pasar dalam DNA mobil-mobil produksi baru, mobil volkswagen dan mobil-mobil eropa, disusul kemudian oleh inovasi mobil jepang. Seiring bertambahnya pelaku industri, inovasi industri mobil melaju cepat, kualitasnya terus meningkat, sementara harganya relatif turun.

Sebagaimana industri mobil, begitu pula yang terjadi di industri komputer, saat Apple memulai bisnisnya pasar sedang didikte oleh IBM, pemain-pemain baru kemudian bermunculan menghadirkan inovasi-inovasi baru hingga industri komputer tercatat sebagai industri paling dinamis dan penuh inovasi.

Steve Jobs berpendapat bahwa jika setiap orang diizinkan untuk memilih sekolah sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya sebagaimana setiap orang bebas memilih mobil (atau komputer) maka dunia pendidikan akan berkembang sangat pesat dengan inovasi. Sebagaimana produsen mobil yang berinovasi menghasilkan produk terbaik untuk sebuah segmen pasar tertentu kemudian berpromosi habis-habisan guna menarik minat pembeli, setiap sekolah di berbagai tingkat akan dipaksa untuk berinovasi menghasilkan program pendidikan terbaik dan mempromosikan program tersebut kepada para calon siswanya.

Tugas negara pun menjadi lebih ringan. Tinggal menyusun kurikulum, standar umum kelulusan dan kebijakan pendidikan yang bersifat strategis. Segala macam pengembangan metode pengajaran, praktikum hingga penanganan anak berkebutuhan khusus dan hal-hal teknis diserahkan sepenuhnya kepada sekolah.

Tidakkah dengan perlombaan inovasi semacam itu justru menjadikan sekolah semakin kapitalis dan negara akan kehilangan otoritasnya? Apakah negara tidak bisa lagi memberikan subsidi biaya pendidikan kepada warganya? Menurut sistem Steve Jobs; sama sekali tidak!! Hadirnya inovasi di bidang pendidikan sisi baiknya tidak hanya peningkatan kualitas manusia, tetapi juga subsidi yang tepat sasaran.

Bagaimana membuat subsidi pendidikan tepat sasaran ala Steve Jobs? Steve Jobs mengusulkan untuk memberikan “Kupon Pendidikan” kepada setiap anak usia sekolah. Kupon ini memiliki suatu nilai tertentu senilai dengan perhitungan biaya pendidikan seorang anak selama 1 tahun untuk suatu tingkat pendidikan. Kupon ini bisa “dibelanjakan” di sekolah manapun, entah negeri atau pun swasta, yang dia pilih sebagai tempatnya belajar. Negara akan membayar kepada sekolah yang dipilihnya sesuai dengan biaya yang dibutuhkan anak itu untuk menempuh pendidikannya, maksimal sejumlah nilai kupon yang bersangkutan. Jika perhitungan biaya operasional dan program pendidikan sekolah melebihi budget biaya sekolah seorang anak selama satu tahun, sekolah akan memungut kelebihan biaya kepada siswa.

Setiap sekolah bebas menentukan berapa pun biaya pendidikannya setelah secermat mungkin menghitungnya dengan pengawasan negara dan badan independen. Dari anggaran itu bisa ditentukan apakah sekolah akan sepenuhnya tergantung subsidi atau menarik biaya tambahan dari siswa. Berapa pun biaya yang harus dibebankan kepada siswanya, selama sebuah sekolah bisa menarik minat siswa dan memberikan harga yang pantas sesuai kualitas pendidikan yang ditawarkannya, sekolah maupun siswa akan saling mengisi kebutuhan masing-masing.

Undang-undang dasar negara kita mengamanatkan jaminan bahwa setiap warga negaranya mendapat pendidikan yang layak, tidak pandang orang tersebut kaya atau pun miskin di manapun ia bersekolah. Yang terjadi saat ini adalah: negara hanya mensubsidi siswa yang bersekolah di sekolah negeri, mereka yang bersekolah di sekolah swasta hanya sedikit menikmati subsidi, padahal hak mereka sebagai warga negara adalah sama dengan mereka yang di sekolah negeri.

Dengan memberikan modal dan kebebasan kepada setiap warganya untuk memilih sekolah sesuai kemampuan dan kebutuhannya, akan tercapai ekuilibrum antara sekolah yang memberikan fasilitas dan program unggulan namun memungut bayaran lebih dengan sekolah yang sepenuhnya membiayai diri dari subsidi. Sekolah negeri atau pun swasta akan memperoleh kedudukan yang sama. Tidak ada status sekolah favorit turun temurun, sekolah yang memungut biaya tinggi dan hanya bisa menyajikan program pendidikan ala kadarnya sudah pasti akan sepi peminat, kalah oleh sekolah yang memberikan program pendidikan yang sama namun bebas biaya. Demikian pula sebaliknya sekolah yang hanya menjual pendidikan gratis tanpa inovasi bisa saja kalah oleh sekolah yang lebih mahal namun diisi oleh tenaga pengajar dinamis yang menawarkan pendidikan berkualitas tinggi. Pendek kata hanya sekolah yang bisa memberikan yang terbaik sesuai kebutuhan siswanya yang akan bertahan dan mendapat status favorit.

Yang kemudian menjadi pertanyaan, jika metode Steve Jobs ini dilaksanakan akankah dapat memberikan solusi bagi dunia pendidikan Indonesia? Well, susah menjawabnya, meskipun Steve Jobs bukan ahli pendidikan dan hanya orang drop out kuliah, setidaknya Steve Jobs telah berhasil membangun dan memimpin sebuah perusahaan yang asset dan kekayaannya bisa melunasi hutang Indonesia. Menariknya, Steve Jobs menyebut kantor pusat Apple sebagai “Apple Campus” atau secara konotatif: Lembaga Pendidikan Apple, jadi selain CEO Steve Jobs juga seorang Rektor. So?


Sumber: Computerworld Information Technology Award Program, Interview with Steve Jobs 1995

0 komentar:

Posting Komentar