Bila ada yang
bertanya, saya orang mana? Saya akan
menjawab tegas, Jakarta. Saya lahir di Jakarta, di daerah Tebet tepatnya, dan
kedua orang tua saya pun orang Jakarta asli. Meskipun mereka ada keturunan
Jawa, tetapi dari lahir hingga dewasa mereka tinggal di Jakarta. Sejak tahun 1994
kami sekeluarga pindah ke Semarang karena pekerjaan orang tua. Dan bertahan hingga
saat ini.
Jakarta, seperti yang kita tahu belakangan
ini, selalu identik dengan hal-hal yang negative. Entah itu gaya hidupnya yang
tinggi, system tata kotanya yang buruk, hingga angka kriminalitas yang tinggi. Tapi
ya tetap saja setiap tahunnya banyak kaum urban yang mencoba peruntungannya ke
Ibukota Indonesia ini. Jakarta dari dulu hingga saat ini tetap menjadi dua mata
pisau yang sama tajamnya. Di satu sisi, kita dapat dengan mudah menemukan hal-hal negative di dalamnya. Tapi di sisi
lain, Jakarta menjadi surga bagi mereka ingin memperbaiki hidup. Posisinya
sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, keuangan, hiburan, dll menjadikan
Jakarta dihuni orang-orang nomor satu di segala bidang. Ini yang membuat opini publik
bahwa di Jakarta membuat kita menjadi lebih cepat berkembang. Akses ke pusat
yang mudah dan fasilitas yang memadai adalah salah dua alasannya.
Suatu ketika, saya memutuskan untuk
melanjutkan pendidikan tinggi ke Jakarta. Banyak teman saya yang merespon. Ada
yang positif, tapi banyak juga yang skeptis dengan keputusan saya itu. Sebagian
dari mereka bilang
“ngapain ke Jakarta??? Cari susah aja…”
“Jakarta itu macet, banjir, banyak demo, tawuran,
dan copet dimana-mana.”
“kalo mau cari sekolah bagus mending ke Jogja aja,
kalo nggak Semarang juga banyak kok yang bagus.”
Semua yang mereka katakan itu bener
banget. Dan saya tahu itu. Alasan kenapa saya memilih Jakarta adalah yang
pertama karena kampus impian saya ada di Jakarta, Depok sih lebih tepatnya. Dan
yang kedua adalah saya ingin tinggal dan merasakan hidup di tanah kelahiran
saya. Saya tidak ingin disangka, ngakunya anak Jakarta, tapi nggak pernah
ngerasain hidup di Jakarta. Saya sudah punya impian dari SMP bahwa saya harus
kuliah di Jakarta, bukan Semarang, Jogja atau apapun itu. Mungkin ini lebih ke
soal pilihan hati.
Hingga beberapa waktu yang lalu,
saya sempat chat dengan salah seorang teman di facebook. Dia tiba-tiba ngomong begini,
“nyesel kan awakmu saiki kuliah ning Jakarta?”. Saya yang bingung pun
membalasnya, “ngopo emange, ***?”. Lalu dia bilang, “Jakarta ki wes panas, macet,
opo-opo larang, akeh saingane, gaya hidupe elek, banjir sisan. Nyesel tho
awakmu?”. Saya hanya menjawab singkat, “ora”. Saya bisa saja menjelaskan
alasannya, tapi saat itu saya sedang malas untuk berdebat.
MENYESAL adalah sifat PECUNDANG
Saya lupa itu quote punya siapa,
tapi yang pasti penyesalan tidak akan membawa kita kemana-mana. Bila kita
menyesal, kita akan selalu dihantui perasaan ragu nantinya. Dan saya tidak
menyesal telah merantau (entah posisi saya ini di sebut merantau atau tidak) ke
Jakarta. Saya mendapatkan banyak hal dari kota ini. Dan saya semakin yakin
untuk tetap tinggal di kota ini dan bangga menjadi bagian di dalamnya.
Saya jadi ingat sebuah kisah tentang
keris. Entah siapa yang menciptakannya tapi dapat di analogikan di posisi saya
ini. Kalau tidak salah begini kisahnya. Keris tidak ada yang jadi tanpa di
tempa terlebih dahulu. Bila kita ingin membuat keris yang bagus dan
berkualitas, maka keris tersebut harus ditempa dengan keras dan dalam waktu
yang lama. Kita analogikan diri kita ini adalah kerisnya. Dan Tuhan adalah Si
Empu yang menempa keris tersebut dari sebuah besi biasa hingga menjadi sebuah
keris yang bagus. Si Empu telah memilih kita di antara batang-batang besi yang
lain. Dengan pertimbangan mungkin hanya Si Empu yang tahu. Kita hanya bisa
terima saat diri kita ditempa dan bersyukur Si Empu telah memilih kita. Saat
tempaan selesai, dan kita dicelupkan ke dalam air, panas itu disiram dengan
dingin, maka kita tidak lagi hanya menjadi sebuah besi, melainkan kita telah
menjadi sebuah keris yang bagus. Dan intinya adalah
Man Shabara Zafira“Siapa yang bersabar dia yang akan beruntung.”
Saya telah
memilih jalan hidup saya sendiri. Dan saya menikmatinya. Saya akan berusaha
konsekuen dengan keputusan saya ini. Apapun yang ada dan terjadi di Jakarta
akan saya hadapi dengan kerja keras. Dan hingga saatnya nanti, saya akan
membuktikan bahwa saya telah menjadi sebuah keris yang bagus dan berkualitas.
Depok, 11 Maret
2012, 11.40 malam










0 komentar:
Posting Komentar