Kekalahan
adalah kebalikan dari sebuah pesta, bukan? Namun, bukan juga sebuah tragedy. Saya
tahu persis soal kekalahan di Wimbledon, bukan?
Darcis
dan Stakhovsky tak akan pernah lagi memukul bola sebagus ini, dalam waktu yang
sangat lama sepanjang hidup mereka. Itu baru tragedy, bukan? Namun, adalah kebahagian
bagi kita berdua yang selalu dicintai selamanya.
Jika
masih sedih, pergilah menaiki kapal besarmu. Laut dan air membuat segalanya
jauh lebih baik, bukan?
Dalam
liburan ke pantai, saya menyelam jauh ke dalam laut untuk mengumpulkan kerang
buatmu. Jika menempelkan kerang yang cukup besar di kuping, akan terdengar
suara orang memberikan tepuk tangan riuh seperti yang mereka lakukan di All
England Club.
Saya
yakin kamu akan menyukai hadiah ini selamanya.
Sahabatmu,
The
King of Clay
Itu adalah isi dari
surat yang ditemukan Roger Federer di balik pintu kamarnya, pagi hari usai
kalah mengejutkan dari Sergiy Stakhovsky di babak kedua Wimbledon bulan lalu. Dan
surat itu berasal dari sahabat, sekaligus sang rival abadinya di lapangan,
Rafael Nadal. Sehebat apapun rivalitas mereka berdua dalam 30 kali pertemuan,
ucapan semangat dari seseorang untuk sahabatnya yang tengah berduka adalah
urusan utama.
Atau juga rasa
kehilangan seorang Lee Chong Wei sepeninggal Taufik Hidayat yang memutuskan
gantung raket usai Djarum Indonesia Open Super Series Premier bulan lalu. Taufik
dan Chong wei dikenal sangat berkawan baik di luar lapangan. Keduanya sering
terlihat bersama dalam suatu acara. Keduanya pun tak segan saling memuji satu
sama lain. Mereka juga saling support dan hormat. Hal ini terlihat saat juara
di DIOSSP kemarin, Chong Wei secara khusus meminta kaos bertuliskan “We Love
Taufik” untuk dipakainya di pengalungan medali.
Dan contoh terbaru,
adalah minggu lalu saat (mantan) pelatih tim Barcelona, Tito Vilanova,
mengumumkan berita pengunduran dirinya. Ia harus menjalani pengobatan kanker
kelenjar ludah yang dideritanya. Ia merasa tak sanggup lagi harus membagi waktu
antara mengurus tim dan kesehatannya. Ratusan, bahkan ribuan ucapan simpati
terus berdatangan dari rekan, sahabat, fans, dan tentu saja seteru abadinya,
Jose Mourinho.
Dalam akun twitter
Chelsea FC berbunyi, “Jose Mourinho, his
coaching staff and the Chelsea players also all send their best wishes to Tito
Vilanova for his fast recovery.” Adalah bukti bahwa rivalitas tak
menghentikan segala macam simpati dan dukungan saat lawan ataupun kawan sedang
dalam cobaan sekalipun.
Sangat sulit memang
untuk bersikap baik dan hormat kepada rival atau musuh. Teori tak semudah
mempraktekannya. Mungkin hanya manusia yang memiliki jiwa ksatria yang bisa melakukannya.
Ini adalah beberapa contoh gambaran sikap professional mereka sebagai atlet. Segala
macam persaingan di lapangan tidak dilanjutkan dengan gontok-gontokan di luar
arena. Karena sesungguhnya musuh yang perlu pertolongan adalah rekan juga.










0 komentar:
Posting Komentar