RSS

Saat Nasionalisme Dipertaruhkan



            Dalam beberapa minggu terakhir, Indonesia (khususnya Jakarta) di datangi beberapa tim sepakbola top asal eropa. Arsenal, Liverpool, dan terakhir Chelsea bergantian menyambangi ibukota. Sebulan sebelumnya bahkan sang runner up piala dunia, Belanda, yang datang. Kita patut berbangga, karena ini artinya bangsa kita dipercaya mampu menyelenggarakan sebuah pertandingan besar. Diperlukan kesiapan dana yang tidak sedikit, jaminan keamanan yang baik, dan tentu saja antusiasme besar dari masyarakat Indonesia itu  sendiri. Dan kita memiliki itu semua.

            Tapi yang mau saya cermati disini adalah masalah nasionalis masyarakat yang terpecah akibat kedatangan beberapa tim eropa tadi. Saat pertandingan berlangsung puluhan ribu penonton di stadion memberikan dukungan kepada tim tamu. Lengkap dengan jersey, syal, poster, spanduk hingga meneriakkan chant masing-masing tim. Banyak yang pro. Tidak sedikit pula yang kontra.

            Saya sendiri lebih sedikit condong ke yang pro. Saya merasa mereka mau merelakan uang yang tidak sedikit untuk menonton ke stadion ya karena tim eropa tadi. Mereka ingin menonton hiburan yang tidak setiap minggu, bahkan bulan, bisa mereka saksikan. Bisa dibilang ini kesempatan langka.



            Selain itu, unsur entertainment juga kental terasa di pertandingan tersebut. Nama yang dipakai pun bukan timnas Indonesia, karena peraturan FIFA memang tidak mengatur pertandingan antara klub dengan negara. Indonesia Dream Team, Indonesia XI, hingga tim BNI Indonesia All Star bergantian dipakai. Jadi menurut saya, mereka ke stadion ya untuk menonton Arsenal atau Liverpool nya, dan kebetulan timnas (dengan nama lain) yang jadi lawannya. Kalaupun yang bertanding melawan persija atau persib pun, tetap saja mereka tidak memihak. Lain soal kalau misal kita bertanding melawan timnas Inggris di piala dunia. Sungguh aneh bila kita tidak mendukung timnas Indonesia. Disini baru kita bisa berdebat soal nasionalisme. 

            Faktor lain yang saya cermati dari kedatangan tim-tim eropa kemarin adalah komentar para petinggi sepakbola kita yang mengatakan ini kesempatan untuk mentransfer ilmu. Atau istilahnya belajar bagaimana bermain sepakbola yang baik dan benar. Transfer ilmu? I’m not sure.

            Memang mungkin ada sedikit ilmu yang bisa para pemain pelajari dari pesepakbola dunia tersebut. Tapi yang merasakan ya mereka yang bertanding di lapangan. Mereka yang di rumah atau tidak ikut bertanding belum tentu bisa ikut belajar. Mungkin istilahnya jangan mentransfer ilmu, karena hal itu tidak bisa di generalisir. 

            Alangkah lebih bijaksana, jika dana milyaran rupiah digunakan untuk memperbaiki fasilitas & infrastruktur latihan yang baik. Saya bukan tidak mendukung tim-tim eropa ke Indonesia, tapi bila punya dana untuk mendatangkan mereka, masak tidak punya dana untuk memperbaiki fasilitas?

            Beberapa saat yang lalu ada anggota dewan yang studi banding ke Spanyol. Dan kebetulan mereka berkunjung ke La Masia, markas tim Barcelona yang terkenal pengembangan pemain mudanya. Para anggota dewan tersebut bertanya resep mengapa para pemain muda disini dapat berkembang sangat baik. Mereka juga meminta cara-cara latihan yang baik untuk dikembangkan di Indonesia. Komentar dari salah satu staf pelatih di sana hanya satu, “apakah di negara anda ada fasilitas yang mendukung? Kualitas rumput lapangan yang baik? Kalau tidak ada lupakan saja masa depan sepakbola negara anda.” Ya, sebegitu pentingnya kualitas lapangan yang baik untuk menunjang permainan. Orang kita terlalu sibuk mengirim pemain junior untuk berkompetisi dan berlatih di luar negeri, tapi pemain masa depan bangsa lain yang berjumlah jutaan harus berlatih dengan fasilitas seadanya. It’s not fair.

            Saya ingat dulu pemerintah mempunyai target 2022 Indonesia masuk piala dunia. Bukan tidak percaya atau pesimistis. Hanya saja kalau melihat pengembangan pemain muda yang ada sekarang mustahil kita bisa mewujudkannya. Bisa bersaing dengan Thailand dan Vietnam saja sudah lebih dari cukup, jika kita melihat keseriusan kedua negara itu akan sepakbolanya. Saya sih masih percaya PSSI sebagai induk tertinggi sepakbola tanah air diisi orang-orang yang peduli dengan bangsa ini. Karena kalau bukan kita yang percaya, lalu siapa lagi??? 

0 komentar:

Posting Komentar