RSS

Negeri Selembar Kertas



Beberapa waktu terakhir ini kita disibukkan dengan berita seorang ayah yang rela menjual ginjalnya untuk biaya menebus ijazah anaknya yang masih ditahan oleh sebuah pesantren. Semua media masa beramai-ramai berlomba memberitakan tentangnya. Stasiun TV pun saling berebut untuk menjadikannya sebagai narasumber mereka. Intinya adalah tentang kebesaran hati seorang ayah untuk anaknya. Tapi yang akan saya tulis disini bukanlah tentang itu, tetapi kepada objek yang hendak dicari oleh sang ayah, yaitu ijazah.

Banyak yang bilang saat ini Indonesia adalah “Negeri Selembar kertas”. Terserah kamu mau berdiskusi atau berdebat tentang bagaimana sistem pendidikan yang baik dan cocok untuk negeri ini, tapi bila kamu tidak memiliki ijazah, kamu tidak ada artinya. Ibaratnya, mereka yang tidak punya ijazah hampir dapat dipastikan akan bermasa depan lebih gelap dari mereka yang punya. 

Dan hal yang paling ditakutkan dari ini semua adalah permainan dalam mendapatkan ijazah itu sendiri. Intelektualitas digadaikan. Uang yang berbicara. Saat seseorang telah mendapat posisi yang cukup nyaman di kantor, tetapi dibelakang namanya hanya ada gelar B.A. Maka dengan membayar sejumlah uang, 2-3 kali masuk kuliah setaun, tanda tangan ini itu, ijazah sudah dapat diambil. Dan promosi jabatan pun akan semakin mudah didapat setelahnya. 

Tapi tetap tidak lupa sambil memaknai prinsip shared poverty and shared wealth. Berbagi kemiskinan dan berbagi kekayaan. Maksudnya tetap tidak lupa mengisi saku kanan kiri dengan imbalan yang jumlah sakunya sendiri dapat mencapai lima belas bahkan lebih. Kalau dulu dikampung-kampung setiap acara 17-an biasanya ada lomba panjat pinang. Untuk menuju ke atas dan jadi pemenang harus memanjat pinang yang diberi pelicin. Maka jaman sekarang untuk jadi yang teratas, harus diberi lebih banyak pelicin agar semakin mudah. Ironi memang.

Susah memang kalau kemampuan dan kepribadian seseorang hanya dilihat dari selembar kertas. Dalam mencari pekerjaan pun saat ini kita harus menyertakan surat kelakuan baik. Urus di RT, RW, Kelurahan, Kecamatan dan Kepolisian maka beres sudah. Entah sebenarnya kita pengguna narkotika atau penganut sistem kumpul kebo, itu soal belakangan. 

Maka tidak berlebihan kalau kita disebut “Negeri Selembar Kertas”. Asal ada kertas, entah itu berwujud ijazah atau fulus, maka segala urusan bisa diatur.

1 komentar:

selimut mengatakan...

skrng ngga bisa lagi gan, kemendiknas udah makin awas dgn universitas abal2. Lulusan dari universitas itu pun harus siap2 kena sanksi di tempat kerja..

Posting Komentar