Whenever
the rain comes down and it’s seems there’s no one to hold me
She’s
there for me, she’s my mom
You
may say I have no one to cover me under the sun
She’e
there for me, she’s my mom
Tidak ada yang lebih baik dan
sempurna memulai #30HariMenulisSuratCinta dengan membuat tulisan tentang
seorang Ibu / Mama / Bunda atau apapun kalian menyebut malaikat satu ini. Mama
iik, begitu aku dan 2 orang adik kecilku biasa memanggil. Kau lah malaikat
kecil kami dirumah. Kau sudah kami anggap sebagai Ibu, teman, sahabat, ustadzah atau bahkan motivator
karena tindakan dan peranmu yang banyak bagi kami.
45 usiamu kini. Berarti 22 tahun
sudah kau menjaga dan merawatku. Mempunyai anak gendut dan banyak tingkah
sepertiku tentu membutuhkan tenaga dan kesabaran ekstra tinggi diusiamu saat
itu. Ya, aku tau saat itu kau sering menitipkanku kepada Eyang Uti karena
sesekali kau ingin menghabiskan waktu mu dengan teman-teman. Aku selalu
mengerti. Aku selalu tersenyum tiap kau menceritakannya.
45 usiamu kini. Berarti 23 tahun
sudah kau menjalin asrama rumah tangga dengan lelaki yang aku sebut Papa. Selama
itu pula tidak pernah kulihat kau berkata tidak dan kasar kepadanya. Selama itu
pula kulihat kau selalu mencium tangan dan sesekali merelakan keningmu di kecup
bibir kasar yang tertutup kumis tipisnya saat dirinya hendak meninggalkan
rumah. Aku iri. Aku iri pada lelaki itu. Aku iri ketulusan dan kehangatan cinta
yang dapat kalian pancarkan. Satu yang bisa kulakukan, menyebut nama kalian
dengan sungguh dalam setiap doa yang keluar dari mulut ini.
Tahun ini usiaku (sudah) 22 tahun. Sudah
5 tahun aku mempunyai KTP. Tanda diriku sudah dianggap dewasa. Tapi aku ingin
tetap kau anggap bayi kecilmu yang selalu kau ingatkan untuk makan. Kau ingatkan
jangan jajan sembarangan. Kau ingatkan jangan tidur terlalu larut. Dan bahkan
sekedar kau ingatkan jangan menggantung baju kotor. Aku belum siap kau lepas. Belum
siap.
Tahun ini, Insya Allah anak sulungmu
lulus kuliah. Dari kampus yang dulu pernah menolakmu 2 kali. Dari kampus yang
dulu pernah menjadi impianmu. Aku ingat, saat pertama kali memberitahumu aku
diterima dikampus ini. Kau hanya menganggapku bergurau. Ya, kau masih sibuk
membolak balikkan nasi yang sedang kau goreng. Aku ingat betul. Hingga akhirnya
kau percaya setelah melihat langsung di layar komputer kamarku. Air mata
menetes dari pipimu. Bahagiamu membuatku sulit bernafas saat kau peluk diriku
keras. Sama seperti dirimu. Aku juga gagal 2 kali dalam tes masuk kampus ini. Tapi
bedanya, aku tetap keras kepala ikut tes ketiga. Dan rencana Allah lebih indah
kali ini. Anakmu, anak sulung kebanggaanmu, diterima dikampus impianmu dulu.
Aku ingat. Lagi-lagi kau menangis
saat mengantarku ke kos pertama kali. Kau menangis dalam taksi yang membawamu
kembali ke stasiun. Sampai sang supir mengira kau adalah korban KDRT. Kau selalu
tertawa tiap ingat itu. Aku tau. Berat rasanya melepas anakmu tinggal sendiri. Anakmu
yang manja. Anak yang selalu meminta antar kemana akan pergi. Anak yang selalu berada
dalam pengawasanmu selama hidupnya. Aku mengerti. Aku mengerti dan aku hanya
tidak ingin membuatmu khawatir tentangku. Aku selalu mengatakan diriku
baik-baik saja di kos. Aku selalu mengatakan diriku sehat-sehat saja. Terkadang
aku berbohong. Terkadang aku jengkel akan cerewetmu. Tapi aku tau. Kau adalah
Ibu. Kau adalah Mama. Malaikat kecil bagiku. Malaikat kecil bagi keluargamu.
Aku memang tidak akan pernah ada
diposisimu. Aku memang tidak akan pernah bisa sepertimu. Aku hanya ingin doamu.
Doamu yang akan menjaga sehatku. Doamu yang akan mempertemukanku dengan jodohku.
Dan doamu yang akan mengantarkanku menuju suksesku. Aamiin
Your Little Son, Angga











0 komentar:
Posting Komentar