RSS

Aku Ingat



Aku ingat, aku ingat semua tentangmu. Aku memang bukan ilmuan yang mampu mengerti ratusan rumus. Aku bukan pengamat yang mampu mengingat ribuan dalil. Dan aku bukan aktor yang mampu menghafal jutaan kata. Bukan. Aku hanya seorang yang terlalu akrab dengan waktu. Suatu hal yang tidak masuk akal. Suatu yang bulat dan ajaib yang tidak bisa begitu saja kau mengerti. Detik demi detiknya menyimpan misteri.

Aku ingat, dulu kau pujaan di sekolah. Paras anggunmu mengundang perhatian dari tiap pria. Bukan satu dua yang menyukaimu. Lebih. Aku yakin. Aku ingat dulu kau duduk di pojok dekat jendela saat kelas satu. Aku ingat nomor absenmu dari kelas satu sampai tiga. Aku bahkan ingat jadwal piketmu dalam seminggu. Yang membuatku selalu berpura-pura bertanya ke guru di akhir jam pelajaran dan menunggumu keluar kelas. Hanya menunggu dan sedikit melirik, tidak berani menyapa. 

Aku ingat, kau yang selalu lebih pandai dariku dikelas. Semua pelajaran. Bahkan hingga hari ini. Aku ingat kau mendapat angka 97 di ulangan ekonomi kelas dua. Angka tertinggi di kelas. Sementara aku hanya posisi dua terbawah, 42 nilaiku. Ya, aku masih ingat betul. Juga saat kau mendapat kesempatan bertanya di pelajaran agama. Pak guru bertanya kepada siapa pertanyaanmu ditujukan. Dengan tegas kau jawab, Angga Hardiyantomo. Lemas aku kau buatnya. Dan benar saja aku tak mampu menjawab pertanyaanmu. Malu. Ya, hanya malu yang aku rasakan. 

Aku ingat dulu kau yang selalu duduk paling belakang dalam angkot pulang. Agar bisa mencuri pandang ke arahku saat aku berjalan menuju terminal. Aku ingat dulu kau yang sering sengaja menabrakku saat lari pemanasan di mata pelajaran olahraga. Aku ingat dulu kau yang sering mencoret-coret meja kelas dengan kata rindang, cookies, dan segala macam kata-kata khayalanmu. Aku ingat dari coretanmu, kalau aku tidaklah masuk kriteria pacarmu.

Aku ingat pukul berapa kau akan tiba di sekolah tiap harinya. Dan aku selalu mencari cara dan alasan agar dapat bersisipan denganmu. Aku ingat kau yang selalu heboh dari beranda lantai dua depan kelasmu tiap melihatku jalan menyeberang di lapangan upacara tengah. Aku ingat betul ekspresimu. Tetapi aku hanya mampu menunduk lesu. Bahkan untuk sekedar membalas menatapmu saja aku tak mampu.   

Aku ingat, 9 tahun waktu yang telah berlalu. Aku sadar, telah lama aku melewatkan episode indah itu. Tapi satu yang kau tau, aku tak akan pernah melupakanmu.

0 komentar:

Posting Komentar