RSS

Untukmu Rinduku


Hujan, seringkali dikaitkan dengan kenangan. Tapi aku tak perlu hujan untuk memanggil kembali kenangan tentang dirimu. Aku masih ingat betul. Saat pertama kali kita bertemu. 

18 Oktober 2004. Ya, aku tak mungkin pernah lupa tanggal itu. Paling tidak sampai hari ini. Hari pertama kita pesantren kilat di SMP kita tercinta. Di sebuah masjid lama yang kini berubah menjadi lapangan upacara. Di sebuah bangunan bertembok keramik merah marun yang tampak lembab. Di sebuah bangunan dengan kipas angin tua yang berisik. Aku tidak akan pernah lupa. Tidak akan. Kau duduk bersila di pojok kiri deretan wanita paling depan. Anggun dengan pakaian muslim berwarna cerah yang melindungi mahkotamu. Asik bergurau dengan 2-3 orang teman terbaikmu sejak di sekolah dasar.  

Padamu, tak hanya sekali ku mencuri pandang. Aku tak ingat, apa yang dikatakan guru agama dalam ceramah di depan. Aku tak peduli, apa yang temanku katakan untuk mencoba menahan kantuknya. Yang ku tahu, ada gadis manis yang membuat mataku menjadikanmu pilihan satu-satunya untuk dilihat. Senyummu, tawamu, dan kuluman bibir tipismu akan permen yang tengah kau nikmati telah menyebarkan pengikat di labirin otakku. Dan ya, tidak butuh waktu lama buatku menjatuhkan hati ke genggamannmu.

Cinta pada pandangan pertama. Begitu mereka biasa menyebutnya. Tak pernah terpikirkan olehku, bakal menjadi penghuni sah disana. Aku pun tak tahu mengapa. Cinta pada pandangan pertama menandakan cinta tanpa syarat. Kau tak perlu tahu banyak untuk jatuh cinta. Kau tak sempat menganalisa untuknya. Tak perlu ini-itu. Hatimu sekedar jatuh. Katanya cinta seperti itu hanya ada di negeri dongeng. Katanya cinta seperti itu tak riil dan tak punya punya masa depan. Cinta yang hanya menjadi jatahnya remaja. Jika seperti itu ijinkan aku hidup di sana. Kembali menjadi remaja seutuhnya. Dan akan kubuktikan semua itu salah.

Saat ini, aku sedang tak ingin berpura-pura bahwa aku sedang tak merindukanmu. Rindu akan suara cemprengmu. Rindu akan cerewetmu. Rindu akan segala cerita aktivitasmu. Terkadang aku membayangkan, saat-saat lengan kita saling mengapit, terkunci oleh rasa yang sama. Mata kita saling tatap mengucap janji, ikrar yang disaksikan semesta, untuk selalu menjaga rasa yang pernah ada. Itulah mimpi yang kupendam. Belum sempat kubangunkan. Belum sempat kuwujudkan. Dan mungkin tak kan pernah sampai, jika kamu masih hanya ada dalam angan. 

Kasih dan cintamu belum kutahu. Masih menjadi misteri yang membingungkan tetapi sekaligus menyenangkan. Bukankah misteri-misteri kehidupan justru merupakan suatu kesejukan? Seperti matahari yang merindukan fajar, atau bulan yang merindukan senja. Akupun merindukan sosok seperti dirimu. Alangkah keringnya manusia yang sudah tak merindu. Alangkah kerdilnya manusia yang tak mampu mendamba cinta. Dan untukmu yang kucinta, biar kunikmati kerinduan ini.     

0 komentar:

Posting Komentar