RSS

Tentang Rasa



Surat ke tiga. Ya, surat ke tiga untukmu. Mungkin kau bosan. Mungkin kau sebal. Tapi aku hanya ingin menyapamu melalui cara yang sedikit berbeda. Cara yang sederhana. Cara yang akan abadi mungkin. Semoga saja. 

Apa kabarmu hari ini, Muu? Mungkin hanya kata itu yang bisa aku sampaikan. Tiap hari. Tiap pagi. Tiap waktu. Aku hanya ingin tahu keadaanmu. Aku hanya ingin tahu hari-harimu. Kau pasti risih dengan ke-kepo-an ku. Dengan perhatian lebayku. Maafkan aku, Muu. Maafkan.

Maafkan aku yang selalu merindukanmu. Maafkan aku yang selalu ingin secepatnya bertemu denganmu. Aku hanya tidak tahu bagaimana cara melawan kangen ini. Cara membuang rasa ini. Dan menghanyutkan pikiran ini.

Ingin rasanya aku sedikit saja bercerita. Berbagi kisah hariku. Bercanda menertawai kebodohanku. Denganmu Muu. Hanya denganmu. Tapi aku tahu kau sibuk. Bahkan sekedar mengingatku pun kau pasti tak sempat. Aku senang saat kau bersedia meluangkan waktu sibukmu yang berharga untuk sekedar menyapaku. Sekedar menemani waktuku. Satu jam. Ya, hanya satu jam waktumu. Apa menurutmu 6 bulan waktuku menantikan saat itu terbayar oleh satu jam mu? Tapi aku puas. Bahkan aku puas hanya mendengar suaramu. Aku puas mendengar kau baik-baik saja. Bagiku itu cukup. Lebih dari cukup.

Aku ingat pertemuan terakhir kita yang hanya terjadi beberapa menit. Kau yang tampak lelah hendak berenjak dari kampus. Aku tak mampu mencegahmu lebih lama. Mungkin hanya sekedar waktu makan siang. Tapi aku tahu kau akan pulang. Aku berusaha mengerti. 


“go home frequently, cause someday I’ll steal you from your parent and come back home to our house”


Aku hanya bisa mendoakanmu dari sini. Berharap yang terbaik untukmu. Bukankah puncak rasa kangen paling tinggi adalah saat kita mampu menyebut namanya dalam doa. Selamat larut dalam kesibukanmu. Semoga harimu selalu menyenangkan.


0 komentar:

Posting Komentar