Jujur sebenarnya saya lupa hari ini
adalah hari ulang tahun dari band favorit saya, Sheila on 7. Tetapi untungnya
ada seseorang yang mengingatkan itu. Agak susah memang buat saya menulis
panjang lebar tentang band satu ini. Bukan karena tidak menarik atau kurang
kenangannya. Justru sangat banyak, sehingga saya sendiri bingung apa yang harus
saya tulis saking banyaknya. Tapi ya sudahlah, walau sedang dikejar deadline
skripsi yang tinggal 3 minggu lagi, saya sempatkan juga membuat sedikit cerita tentang
band ini dan beberapa lagunya.
Saya pertama kenal band ini melalui
sepupu saya, sebut saja Afri. Saya ingat betul dipenghujung tahun 2000,
saat-saat menjelang hari raya lebaran, sepupu saya itu mempunyai gacoan yang membuatnya dikelilingi
banyak teman. Ya, album kedua dari Sheila on 7 Kisah Klasik Untuk Masa Depan telah dimilikinya. Sebuah hadiah
ulang tahun dari Pakde saya. Saya yang lebih muda 3 tahun seperti mendapat
referensi musik baru.
Saya ingat kala itu band ini sedang
naik-naiknya. Setelah cukup sukses di album pertama (terjual hampir 1,3 juta
kopi), banyak orang semakin penasaran dengan kelima pemuda asal kota Jogja ini.
Dan di album kedua ini lah puncak dari penasaran mereka.
Saat itu lagu yang paling hits
adalah Sephia. Hampir setiap
pengamen yang saya temui pasti menyanyikan lagu itu. Di metro mini, warung kaki
lima, komplek perumahan, hingga “pengamen” di kafe-kafe. Tidak ada yang
meragukan lagu ini. Lagu ini bahkan menjadi sebuah simbol dari perselingkuhan.
Siapa yang bisa menyangkal bahwa tiap ingat selingkuhan atau kekasih gelap yang
terbayang adalah nama Sephia.
Padahal Sephia sendiri itu tidak
jelas siapa. Bahkan seorang Bimbim ‘Slank’ pun pernah menyebut lagu ini sebagai
lagu yang EDAN karena lirik-liriknya yang begitu vulgar namun nyata dan indah.
Setelah puas dan sukses
mengubek-ubek semua lagu di album itu, baru kemudian saya mendengar lagu-lagu
dari album pertama mereka. Pertama yang saya tahu adalah lagu Kita. Karena lagu itu sempat dipakai
sebagai sebuah soundtrack sinetron. Sinetron Lupus kalau saya tidak salah
ingat. Selain itu faktor Mona Ratuliu juga yang mempengaruhi saya langsung
jatuh hati dengan lagu ini. Mona memang menjadi bintang dalam video klipnya.
Tetapi dari itu semua, adalah lagu Dan yang membuat saya yakin kalau saya
mengagumi band yang benar. Empat menit empat puluh enam detik pertama saya
mendengar lagu ini, saya seolah langsung terbius dengan lirik dan lagunya. Kata-kata
yang indah dengan musik yang sederhana mampu menghipnotis siapapun yang
mendengar. Hal sama yang berlaku juga di lagu J.A.P. Banyak lirik dan kata-kata ajaib disini. Siapa yang bisa
mengira kata seperti alas tonggak
harapan, untaian bunga canda, mimpi tanpa jemu, dan puitiskan sayang dapat terpakai dalam lagunya.
Favorit saya adalah album ketiga
mereka, 07 Des. Tidak ada lagu yang
tidak enak disini. Dari Tunjukan Padaku,
Seberapa Pantas, Buat Aku Tersenyum, Trimakasih Bijaksana, Mari Bercinta, Pria
Kesepian hingga Saat Aku Lanjut Usia.
Sayangnya album ini seperti menjadi album keemasan terakhir bagi meraka. Sebelum
band-band baru nan segar macam Peterpan, Ungu dan Nidji muncul serta invasi musik
bajakan yang kian merajalela.
Beberapa album yang keluar setelah
itu juga masih sering saya nikmati. Meski saya merasa warna musik mereka
sedikit berbeda dari tiga album awal tadi. Memang beberapa terdengar lebih
mewah dengan tambahan iringan biola dan alat musik tiup dari musisi senior,
tetapi saya seperti kehilangan musik sederhana khas Sheila on 7 yang dulu
pertama saya kenal. Atau memang telinga saya saja yang kurang musikalitasnya.
Tetapi saya senang karena akhirnya ‘Sheila
Music’ (sebutan harmonisasi irama lagu khas Sheila on 7) kembali lagi. Album Berlayar 3 tahun silam menjadi jawaban atas
semua yang meragukan eksistensi bermusik band ini. Selain itu musik mereka juga
menjadi tambah kaya dengan tambahan unsur perkusi, terutama di lagu Have Fun. Serta tambahan 2 lagu
berbahasa inggris On The Phone dan Perfect Time yang mampu memberikan
kesan berbeda.
Saya mempunyai beberapa kaset dari
album-album Sheila on 7. Entah masih bisa diputar atau tidak. Saya pun lupa
kapan terakhir menyetelnya. Dan saya berjanji pada diri saya sendiri bila ada
rejeki lebih akan membeli semua album-album Sheila on 7 kembali. Yang mungkin
kali ini sudah dalam bentuk CD. Malu rasanya mengidolai sebuah band tetapi
menikmati musik karyanya melalui hasil bajakan.
Dan terakhir tidak lupa saya (kembali)
mengucapkan Selamat Ulang Tahun untuk Sheila on 7 yang tahun ini menginjak usia
18. Sebuah usia matang untuk sebuah band. Semoga selalu bisa memberikan musik-musik
berkualitas dan berlirik memorable. Dan
semakin membuktikan diri sebagai salah satu musisi papan atas yang karyanya
tidak akan pernah bosan didengar.