RSS

Karena Bersamamu Adalah Candu


“Heyy kamu.. sudah masuk kamar kah?”
Maaf aku yang kembali tak bisa mengantarmu hingga kau menutup gerbang tempat kau tinggal. Maaf aku yang hanya sanggup mendoakanmu agar kau selamat dalam perjalanan. Mungkin kau illfeel, mungkin kau juga tidak nyaman saat aku berbaik hati mengantarmu. Tetapi aku tahu, kau hanya tak biasa diperlakukan istimewa oleh teman priamu. Ah, kau memang terlalu mandiri.


“Heyy kamu.. sudah masuk kamar kah?”
Segera bereskan jiwamu. Kau butuh sedikit relaksasi setelah lelah hari ini. Makan lele gorengmu. Hirup aroma teh panasmu. Oleskan krim ototmu. Kau butuh itu. Dan ya, jangan lupa susu dinginmu.

                                                           
“Heyy kamu.. sudah masuk kamar kah?”
Lakukan yang ingin kamu lakukan. Baca buku renunganmu. Pelajari materi kelasmu. Dengarkan musik favoritmu. Ini kamarmu. Kamu yang tentukan selera. Buat dirimu senyaman mungkin. Bukankah kenyamanan yang pada akhirnya membawa kita kembali?


“Heyy kamu.. sudah masuk kamar kah?”
Jika waktu tidur telah memanggil, segera gelar kasurmu, ambil bantal dan gulingmu, juga selimut hangatmu. Lalu tutup mata dan telingamu. Karena esok kau harus tepati janjimu. Berjuang untuk masa depan yang selalu kau banggakan itu.


“Heyy kamu.. sudah masuk kamar kah?”
Terima kasih untuk segalanya. Setengah hari yang melelahkan. Setengah hari pula yang menyenangkan. Maafkan jika aku selalu merepotkan. Jangan pernah letih untuk selalu mengingatkan. Tolong buat aku selalu nyaman. Agar kita selalu berada dalam satu genggaman.



Jakarta, 12 April 2015

Happy 18th Sheila on 7




Jujur sebenarnya saya lupa hari ini adalah hari ulang tahun dari band favorit saya, Sheila on 7. Tetapi untungnya ada seseorang yang mengingatkan itu. Agak susah memang buat saya menulis panjang lebar tentang band satu ini. Bukan karena tidak menarik atau kurang kenangannya. Justru sangat banyak, sehingga saya sendiri bingung apa yang harus saya tulis saking banyaknya. Tapi ya sudahlah, walau sedang dikejar deadline skripsi yang tinggal 3 minggu lagi, saya sempatkan juga membuat sedikit cerita tentang band ini dan beberapa lagunya. 

Saya pertama kenal band ini melalui sepupu saya, sebut saja Afri. Saya ingat betul dipenghujung tahun 2000, saat-saat menjelang hari raya lebaran, sepupu saya itu mempunyai gacoan yang membuatnya dikelilingi banyak teman. Ya, album kedua dari Sheila on 7 Kisah Klasik Untuk Masa Depan telah dimilikinya. Sebuah hadiah ulang tahun dari Pakde saya. Saya yang lebih muda 3 tahun seperti mendapat referensi musik baru. 

Saya ingat kala itu band ini sedang naik-naiknya. Setelah cukup sukses di album pertama (terjual hampir 1,3 juta kopi), banyak orang semakin penasaran dengan kelima pemuda asal kota Jogja ini. Dan di album kedua ini lah puncak dari penasaran mereka. 

Saat itu lagu yang paling hits adalah Sephia. Hampir setiap pengamen yang saya temui pasti menyanyikan lagu itu. Di metro mini, warung kaki lima, komplek perumahan, hingga “pengamen” di kafe-kafe. Tidak ada yang meragukan lagu ini. Lagu ini bahkan menjadi sebuah simbol dari perselingkuhan. Siapa yang bisa menyangkal bahwa tiap ingat selingkuhan atau kekasih gelap yang terbayang adalah nama Sephia. Padahal Sephia sendiri itu tidak jelas siapa. Bahkan seorang Bimbim ‘Slank’ pun pernah menyebut lagu ini sebagai lagu yang EDAN karena lirik-liriknya yang begitu vulgar namun nyata dan indah.

Setelah puas dan sukses mengubek-ubek semua lagu di album itu, baru kemudian saya mendengar lagu-lagu dari album pertama mereka. Pertama yang saya tahu adalah lagu Kita. Karena lagu itu sempat dipakai sebagai sebuah soundtrack sinetron. Sinetron Lupus kalau saya tidak salah ingat. Selain itu faktor Mona Ratuliu juga yang mempengaruhi saya langsung jatuh hati dengan lagu ini. Mona memang menjadi bintang dalam video klipnya. 

Tetapi dari itu semua, adalah lagu Dan yang membuat saya yakin kalau saya mengagumi band yang benar. Empat menit empat puluh enam detik pertama saya mendengar lagu ini, saya seolah langsung terbius dengan lirik dan lagunya. Kata-kata yang indah dengan musik yang sederhana mampu menghipnotis siapapun yang mendengar. Hal sama yang berlaku juga di lagu J.A.P. Banyak lirik dan kata-kata ajaib disini. Siapa yang bisa mengira kata seperti alas tonggak harapan, untaian bunga canda, mimpi tanpa jemu, dan puitiskan sayang dapat terpakai dalam lagunya.       

Favorit saya adalah album ketiga mereka, 07 Des. Tidak ada lagu yang tidak enak disini. Dari Tunjukan Padaku, Seberapa Pantas, Buat Aku Tersenyum, Trimakasih Bijaksana, Mari Bercinta, Pria Kesepian hingga Saat Aku Lanjut Usia. Sayangnya album ini seperti menjadi album keemasan terakhir bagi meraka. Sebelum band-band baru nan segar macam Peterpan, Ungu dan Nidji muncul serta invasi musik bajakan yang kian merajalela. 

Beberapa album yang keluar setelah itu juga masih sering saya nikmati. Meski saya merasa warna musik mereka sedikit berbeda dari tiga album awal tadi. Memang beberapa terdengar lebih mewah dengan tambahan iringan biola dan alat musik tiup dari musisi senior, tetapi saya seperti kehilangan musik sederhana khas Sheila on 7 yang dulu pertama saya kenal. Atau memang telinga saya saja yang kurang musikalitasnya. 

Tetapi saya senang karena akhirnya ‘Sheila Music’ (sebutan harmonisasi irama lagu khas Sheila on 7) kembali lagi. Album Berlayar 3 tahun silam menjadi jawaban atas semua yang meragukan eksistensi bermusik band ini. Selain itu musik mereka juga menjadi tambah kaya dengan tambahan unsur perkusi, terutama di lagu Have Fun. Serta tambahan 2 lagu berbahasa inggris On The Phone dan Perfect Time yang mampu memberikan kesan berbeda.      

Saya mempunyai beberapa kaset dari album-album Sheila on 7. Entah masih bisa diputar atau tidak. Saya pun lupa kapan terakhir menyetelnya. Dan saya berjanji pada diri saya sendiri bila ada rejeki lebih akan membeli semua album-album Sheila on 7 kembali. Yang mungkin kali ini sudah dalam bentuk CD. Malu rasanya mengidolai sebuah band tetapi menikmati musik karyanya melalui hasil bajakan.

Dan terakhir tidak lupa saya (kembali) mengucapkan Selamat Ulang Tahun untuk Sheila on 7 yang tahun ini menginjak usia 18. Sebuah usia matang untuk sebuah band. Semoga selalu bisa memberikan musik-musik berkualitas dan berlirik memorable. Dan semakin membuktikan diri sebagai salah satu musisi papan atas yang karyanya tidak akan pernah bosan didengar.  

Tentang Rasa



Surat ke tiga. Ya, surat ke tiga untukmu. Mungkin kau bosan. Mungkin kau sebal. Tapi aku hanya ingin menyapamu melalui cara yang sedikit berbeda. Cara yang sederhana. Cara yang akan abadi mungkin. Semoga saja. 

Apa kabarmu hari ini, Muu? Mungkin hanya kata itu yang bisa aku sampaikan. Tiap hari. Tiap pagi. Tiap waktu. Aku hanya ingin tahu keadaanmu. Aku hanya ingin tahu hari-harimu. Kau pasti risih dengan ke-kepo-an ku. Dengan perhatian lebayku. Maafkan aku, Muu. Maafkan.

Maafkan aku yang selalu merindukanmu. Maafkan aku yang selalu ingin secepatnya bertemu denganmu. Aku hanya tidak tahu bagaimana cara melawan kangen ini. Cara membuang rasa ini. Dan menghanyutkan pikiran ini.

Ingin rasanya aku sedikit saja bercerita. Berbagi kisah hariku. Bercanda menertawai kebodohanku. Denganmu Muu. Hanya denganmu. Tapi aku tahu kau sibuk. Bahkan sekedar mengingatku pun kau pasti tak sempat. Aku senang saat kau bersedia meluangkan waktu sibukmu yang berharga untuk sekedar menyapaku. Sekedar menemani waktuku. Satu jam. Ya, hanya satu jam waktumu. Apa menurutmu 6 bulan waktuku menantikan saat itu terbayar oleh satu jam mu? Tapi aku puas. Bahkan aku puas hanya mendengar suaramu. Aku puas mendengar kau baik-baik saja. Bagiku itu cukup. Lebih dari cukup.

Aku ingat pertemuan terakhir kita yang hanya terjadi beberapa menit. Kau yang tampak lelah hendak berenjak dari kampus. Aku tak mampu mencegahmu lebih lama. Mungkin hanya sekedar waktu makan siang. Tapi aku tahu kau akan pulang. Aku berusaha mengerti. 


“go home frequently, cause someday I’ll steal you from your parent and come back home to our house”


Aku hanya bisa mendoakanmu dari sini. Berharap yang terbaik untukmu. Bukankah puncak rasa kangen paling tinggi adalah saat kita mampu menyebut namanya dalam doa. Selamat larut dalam kesibukanmu. Semoga harimu selalu menyenangkan.


Surat Untuk Sahabat




Menurut Wikipedia, sahabat adalah orang yang memperlihatkan perilaku berbalasan dan reflektif yang melibatkan pengetahuan, penghargaan dan afeksi. Buatku, sahabat adalah dia yang menyampaikan sesuatu dengan gamblang dan jujur, membuat kita merasa tertikam tapi juga merasa terbuka matanya. Sahabat adalah teman sejati yang hanya bisa dibuktikan dengan berjalannya waktu. Dimulai dari persahabatan, pertemanan, dan mungkin orang menikah itu persahabatan juga. 

Ada yang masuk ke kehidupan kita dan berlalu begitu cepat. Dan ada yang tinggal lebih lama dan membentuk jejak dihati. Mungkin diri kita tak akan pernah sama dengan sebelumnya. Kita akan menemukan kata-kata baru, fakta-fakta baru, sikap-sikap baru dan juga ilusi-ilusi baru. Bersahabat itu membutuhkan banyak pengertian waktu. Bersahabat itu membutuhkan banyak pengertian usaha. Dan yang terpenting bersahabat itu membutuhkan banyak pengertian tenaga dan rasa percaya. 

Adalah sebuah kehormatan dapat menulis catatan kecil tentang kalian. Sahabat, kakak, rekan berjuang dan mungkin pengkritik paling tajam buatku. Tak usah kuceritakan bagaimana kita bertemu. Aku hanya memikirkan sejauh mana kita dapat melangkah bersama. Dapat berjuang bersama. Menemukan tiap-tiap puzzle dari rencana hidup kita. Aku hanya ingin kita dapat selalu berbagi. Dapat selalu memberi. Dapat selalu menerangi. Dan dapat selalu menyayangi.

Sahabat, maafkan aku yang selalu merindukan kalian. Maafkan aku yang selalu ingin secepatnya bertemu kalian. Maafkan aku yang selalu mengecewakan kalian. Maafkan aku yang tak pernah ada saat kalian butuh. Maafkan aku yang hanya bisa mengatur bukan menegur. Maafkan aku yang hanya bisa memarahi bukan menasehati. Maafkan aku yang hanya bisa kritisi tanpa solusi. Maafkan aku sahabat. Maafkan.

Walau tak ada satupun yang dapat kuberi, tapi tak henti kau selalu peduli. Bukan hanya sekedar meluruskan, tapi juga membangunkan kala ku terjatuh. Diammu adalah simbol kewibawaan, senyummu menggambarkan ketulusan, dan tutur katamu yang selalu menyejukan. Aku membutuhkanmu sahabat. Sangat butuh. 

Aristoteles pernah mengatakan, “apakah arti sahabat? Sahabat adalah satu jiwa yang bersemayam dalam dua tubuh”. Ya, buatku kalian adalah sahabat-sahabatku. Sahabat adalah harta yang paling berharga. Dan sahabat adalah duka yang paling nestapa. Terima kasih sahabat. Bangga telah mengenal kalian, Anggoro (@anggoroprak), Gabo (@yudhanugr), Bagus (@baguscabs), Uchi (@uchivirta) & Ajeng (@ajengdhandayani).  
 


Aku Ingat



Aku ingat, aku ingat semua tentangmu. Aku memang bukan ilmuan yang mampu mengerti ratusan rumus. Aku bukan pengamat yang mampu mengingat ribuan dalil. Dan aku bukan aktor yang mampu menghafal jutaan kata. Bukan. Aku hanya seorang yang terlalu akrab dengan waktu. Suatu hal yang tidak masuk akal. Suatu yang bulat dan ajaib yang tidak bisa begitu saja kau mengerti. Detik demi detiknya menyimpan misteri.

Aku ingat, dulu kau pujaan di sekolah. Paras anggunmu mengundang perhatian dari tiap pria. Bukan satu dua yang menyukaimu. Lebih. Aku yakin. Aku ingat dulu kau duduk di pojok dekat jendela saat kelas satu. Aku ingat nomor absenmu dari kelas satu sampai tiga. Aku bahkan ingat jadwal piketmu dalam seminggu. Yang membuatku selalu berpura-pura bertanya ke guru di akhir jam pelajaran dan menunggumu keluar kelas. Hanya menunggu dan sedikit melirik, tidak berani menyapa. 

Aku ingat, kau yang selalu lebih pandai dariku dikelas. Semua pelajaran. Bahkan hingga hari ini. Aku ingat kau mendapat angka 97 di ulangan ekonomi kelas dua. Angka tertinggi di kelas. Sementara aku hanya posisi dua terbawah, 42 nilaiku. Ya, aku masih ingat betul. Juga saat kau mendapat kesempatan bertanya di pelajaran agama. Pak guru bertanya kepada siapa pertanyaanmu ditujukan. Dengan tegas kau jawab, Angga Hardiyantomo. Lemas aku kau buatnya. Dan benar saja aku tak mampu menjawab pertanyaanmu. Malu. Ya, hanya malu yang aku rasakan. 

Aku ingat dulu kau yang selalu duduk paling belakang dalam angkot pulang. Agar bisa mencuri pandang ke arahku saat aku berjalan menuju terminal. Aku ingat dulu kau yang sering sengaja menabrakku saat lari pemanasan di mata pelajaran olahraga. Aku ingat dulu kau yang sering mencoret-coret meja kelas dengan kata rindang, cookies, dan segala macam kata-kata khayalanmu. Aku ingat dari coretanmu, kalau aku tidaklah masuk kriteria pacarmu.

Aku ingat pukul berapa kau akan tiba di sekolah tiap harinya. Dan aku selalu mencari cara dan alasan agar dapat bersisipan denganmu. Aku ingat kau yang selalu heboh dari beranda lantai dua depan kelasmu tiap melihatku jalan menyeberang di lapangan upacara tengah. Aku ingat betul ekspresimu. Tetapi aku hanya mampu menunduk lesu. Bahkan untuk sekedar membalas menatapmu saja aku tak mampu.   

Aku ingat, 9 tahun waktu yang telah berlalu. Aku sadar, telah lama aku melewatkan episode indah itu. Tapi satu yang kau tau, aku tak akan pernah melupakanmu.